Jumat, Januari 22

MENGUNYAH-NGUNYAH PANCING

Oleh : Yulfian Azrial / Infonomica


"PLUUNG... !" sebuah benda dijatuhkan ke dalam sebuah telaga. Ikan penghuni telaga terkejut. Tapi ada aroma yang merangsang, meraka tak jadi lari. Ada yang menyintuh dengan bibirnya.
"Ai nikmat.... nikmat !" serunya. Yang lain datang berkerumun, berebut kesempatan.

Ikan-ikan terkejut. Tapi ia dengarkan juga cerita si Tua.
"Itulah yang bernama pancing anak-anakku yang sejak dulu selalu membuat celaka kaum kita.
Di ujungnya memang ditaruh makanan yang meransang selera. Tapi di dalamnya tersembunyi logam tajam yang berkait. Bila termakan terkaitlah kita. Tak bisa lepas hingga kita diangkat ke alam lain.

Di alam itu menunggu makhluk buas dan teramat kejam yang bernama manusia. la tak segansegan mumukul, menusuk, memotong-motong tubuh dengan pisau dan parang. Luka-luka yang menganga itu ditetesi asam bercampur garam.
Sakit dan perih yang tak terperi. Membuat tubuh merejang dan menggelepar.

Tidak sampai di situ.
Manusia itu akan membawa kita mendekati sebuah kuali yang berisi minyak mendidih. Di bawahnya berkobar api yang menyala-nyala. Kadang kita ada yang ditusuk lalu dimasukkan ke api itu. Ada yang dimasukkan ke dalam kuali yang panas bagai cairan logam.

Bagai menatap mimpi yang sebenarnya. Lolong yang tak dapat dilukiskan. Serak dan ngeri! Kita tak bisa membebaskan diri lagi." demikian Man Tua itu bercerita.

Ada yang serius mendengarkan. Tapi banyak juga yang tak yakin.
Apalagi yang sempat agak lama menikmati makanan di ujung pancing itu. Petuah Ikan Tua tak dihiraukan lagi.

Lalu apa yang terjadi selanjutnya. Beberapa di antara mereka benar-benar menghadapi kenyataan. Cerita ikan tua benar terjadi.

Ketika siksaan dan kenistaan itu merajam, Ikan-ikan itu memekik, berteriak minta ampun. Penyesalanpun datang. Nasehat Ikan Tua ternyata tak sekedar kabar pertakut belaka.

Ingin rasanya kembali ke dalam telaga. Mengabarkan agar jangan ada lagi yang sampai terjebak. Tapi harapan tinggal harapan. Waktu tak bisa berlalu surut. Hidup tak mengenal siaran tunda.

Apabila makanan di ujung pancing diibaratkan pada sebuah nafsu, dan pancing sebagai dosa manusia, maka nasehat ikan Tua adalah ajaran Islam yang telah teruji kebenarannya.

Dalam Islam, bahkan diajarkan, bagaimana menikmati umpan tanpa menjadi korban pancing. Dan Islam memang ditegaskan, bahwa yang namanya pancing selalu akan menyeret ke alam kenistaan yang penuh siksa dan derita.

Apabila alam itu diibaratkan pada alam kubur, maka tungku penggorengan tentulah perumpamaan siksaan api neraka. Ikan yang kena pancing pastilah akan tiba di penggorengan, seperti manusia berdosa yang pasti diterjunkan ke neraka.

Seperti umpan, kulit dari dosa itu selalu saja nikmat dan meransang selera. Seperti juga buah larangan yang dimakan Adam dan Hawa.

Puji Tuhan yang menurunkan ajaran ISLAM sejak nabi Adam, Ibrahim, Musa, Daud, baginda Isa Al Masih dan Rasulullah Muhammad SAW. Allah SWT telah pahatkan petunjuk kebenaran dalam Taurat, Zabur, Injil dan Al Qur'an untuk satu-satunya agama Allah.

Dan Allah tak pernah memaksa. Karena kebenaran ISLAM memang hanya bisa dirasakan bagi yang berpikir dengan akal merdeka. Akal merdeka seperti yang dimiliki Iman Al Ghazali, seperti Ibnu Sina, Al Djabar, Ibnu Ruusy, Galileo Galilei yang mjengikuti ajaran Islam dan menyatakan bahwa bumilah yang mengelilingi matahari pada Paus di Vatikan. Seperti Abul 'Ala Maduddi, seperti akal merdeka Niel Amstrong, Muhammad Ali dan seperti Roger Groudy, dll.

Karena Islam memang menyuruh kita berpikir ilmiah, Bahkan merdeka berpikir untuk memeriksa kebenaran ajaranNya.

Seperti memeriksa kebenaran bahwa pancing selalu saja akan mencelakakan ikan-ikan, yang akan menggiringnya ke penggorengan atau ke tungku api. Kebenaran itu sebenarnya telah banyak yang merasakan. Tapi masih ada saja ada nafsu yang menyuruh berdalih. Bahkan meremehkan.

Seakan ia mampu menghindari kematian, yang bisa saja menjemput setiap waktu. Seakan bisa mengatasi siksa kubur dan neraka yang pasti akan dijalaninya. Padahal, sekadar untuk memasang lagi gigi yang tanggal, mereka tidaklah mampu.... (Infonomica)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar