Kamis, April 22

NAMO-NAMO AKA DALAM KAJIAN ADAT MIINANGKABAU

Oleh : Yulfian Azrial

Berdasarkan sifatnya atau panjang pendeknya akal seseorang, maka nama akal dalam ajaran adat Minangkabau dikelompokkan menjadi 3 (tiga).

1. Aka Sajangka (Akal Sejengkal)
2. Aka Duo Jangka (Akal Dua Jengkal)
3. Aka Tigo Jangka (Akal Tiga Jengkal)


1. Aka Sajangka (Akal Sejengkal)

Indak ado urang nan labiah dalam sagalo bidang malainkan inyo/ Bak tagak di ateh mungguak, awak lah tinggi jonyo awak, kecek di ateh-ateh sajo, curito kabaliak awan, namuah ka langik nan ka tujuah, tak namuah dibao turun, pandangan manukiak turun
(tidak ada orang yang lebih dalam segala bidang melainkan dia/ Bagai berdiri di atas munggu, dia telah tinggi menurutnya, bicara di atas-atas saja, cerita ke balik awan, bahkan ke langit yang ke tujuh, tak mau dibawa turun, pandangan manukik turun).

2. Aka Duo Jangka (Akal Dua Jengkal)
Indak ado urang nan balabiah jo bakurang malainkan samo. Pandangannyo data. Kalau manimbang inyo adia, kalau mangati samo barek, rela manolong urang susah, lainnyo tampek salang tenggang, tampek mangadu dek nan tidak
Tidak ada orang yang berlebih dan bakurang malainkan sama. Pandangannya datar. Kalau menimbang adil, kalau mangati sama berat, rela manolong yang susah, lainnya tempat bertenggang, tempat mangadu bagi yang tidak).

3. Aka Tigo Jangka (Akal Tiga Jengkal)
Indak ado urang nan paliang randah, melainkan inyo. Pandangannyo mandaki, tak putuih cinto ka nan baiak, tak abih angan ka nan elok, tak ado baniat salah, anggan bana ka nan bukan, itu nan aka tigo jangko
(tidak ada orang yang paling rendah, melainkan dia. Pandangannya mendaki, tak putus cinta kepada yang baik, tak habis angan ke yang elok, tak ada berniat salah, enggan kepada yang bukan-bukan, itu yang disebut akal tiga jengkal).

Keberadaan Aka Nan Tigo (Akal Yang Tiga) ini dapat menjadi modal sebagai tolok ukur bagi seseorang di dalam pergaulan. Bagaimana seseorang dituntun untuk arif dan maklum dengan kurenah (perangai) pihak yang dihadapinya.

Maksudnya, seorang yang matang akalnya, tentu akan menghadapi dan menyikapi orang yang dihadapinya secara proporsional. Bila ia berhadapan dengan orang yang masuk dalam kelompok yang memiliki aka sajangka, maka ia harus maklum.

Begitu pula bila yang dihadapi orang yang masuk kelompok aka duo jangka dan aka tigo jangka. Di sinilah ujian bagi budi seseorang untuk bisa bersikap arif dan bijaksana. Sehingga ia bisa menempatkan diri secara baik.

Dalam ajaran adat Minangkabau hal ini dituangkan dalam kata-kata berikut :
di dalam aka nan tigo
basisiah buruak jo baiak
nan merah banamo sago
nan kundi tataplah kuriak
nan indah iolah baso
nan budi salalu baiak

di dalam akal yan tiga
bersisih buruk dengan baik
yang merah bernama saga
yang kundi tetaplah lurik
yang indah ialah bahasa
yang budi selalu baik



( Dikutip dari Buku Yulfian Azrial : 2010, MANJADI PANGULU }

Senin, April 19

ASAL-USUL NAMA MINANGKABAU MENURUT PARA AHLI

Oleh : Yulfian Azrial

Pendapat tentang asal-usul nama Minangkabau sangat beragam. Ada yang berasal dari cerita rakyat, yaitu pendapat yang ber¬kembang dari mulut ke mulut. Ada pula asal-usul nama Minangkabau yang tertuang dalam Tambo Alam Minangkabau.
Karena masa terus berkembang, dilakukan pula penelitian oleh para ahli. Baik ahli sejarah, Ahli Sosiologi, Antropologi, dan lain-lain. Sehingga dari penelitian ini terungkap pula sejumlah kata yang menjadi asal-usul nama Minangkabau menurut pendapat para ahli tersebut. Sampai sekarang belum dapat dipastikan dengan jelas mana asal-usul na¬ma Minangkabau yang sebenarnya.


Namun demikian, dengan semakin meningkatnya kecerdasan manu¬sia, maka pendapat yang lebih banyak dipercayai orang adalah asal-usul nama Minangkabau menurut para ahli ini. Karena pendapat ini telah melewati proses penelitian yang juga diku¬atkan bukti-bukti dengan melewat proses ka¬jian ilmiah yang didasarkan pada pendekatan yang bisa dipertanggungjawabkan sesuai dengan rujukan ilmu pengetahuan.
Berikut adalah beberapa asal nama Minangkabau menurut pendapat para para ahli tersebut :

DARI KATA MINANGA TAMWAN


Prof.Dr.Poerbacaraka mengatakan bahwa nama Minang¬ka¬bau berasal dari kata dalam bahasa Sangsekerta yaitu Minanga Tamwan. Kata-kata ini terdapat dalam Prasasti Kedukan Bukit.

Prasasti Kedukan Bukit adalah prasasti yang menceritakan tentang kisah perluasan wi¬layah Minanga Tamwan. Yaitu perlu¬as¬an wi¬la¬yah yang bermula dari kemenangan utusan Raja Minanga Tam¬wan yang dipimpin Datuk Cribijaya (Dt.Sibijayo, Panglima Perang Mi¬nanga Tamwan) melawan Bajak Laut yang banyak meresahkan masyarakat di sekitar Sungai Palembang (Sungai Musi) sekarang.

Dalam prasasti ini disebutkan antara lain,
“Yang Dipertuan Hyang melepas duapuluh laksa
tentara dari Minanga Tamwan yang dipimpin
Cribijaya (Dt.Sibijayo) melalui perja¬lanan suci,
dengan tujuan memperluas negara hingga
men¬datangkan kemakmuran.”


Semua ini dituangkan Prof.Dr.Poerba¬ca¬ra¬ka dalam bukunya Riwayat Indonesia I. Hanya saja di manakah letak daerah Minanga Tam¬wan itu, hingga saat ini masih men¬jadi perde¬batan. Menurut keterengan Prof.Dr.Poerbacaraka yang disebut Minanga Tamwan itu adalah daerah yang terletak di antara dua Sungai Besar yang bertemu.

Sebagian ahli ada yang menduga bahwa dua sungai besar itu adalah Kam¬¬par Kiri dan Kampar Kanan. Namun bila yang dimaksud adalah Sungai Kampar Kiri dan Kam¬par Kanan, maka ke¬mungkinan besar daerah terse¬but ada di sekitar Muara Takus.
Menurut hasil penelitian dan kajian penu¬lis sendiri bersama Masyarakat

Sejarahawan Indonesia (MSI) Luhak Limopuluah (Yulfian Azrial,dkk-2003), Mina¬nga Tamwan bisa saja bukanlah dimaksudkan seba¬gai per¬temuan antara dua sungai besar secara fisik. Karena pertemuan sungai secara fisik tentu lebih lazim dise¬but sebagai muara bukannya Minanga Tamwan.

Tetapi Minanga Tamwan justru bisa saja menunjuk¬kan suatu daerah atau kawasan yang menjadi tempat perte¬muan masyarakat dari dua sungai besar. Hal ini karena jalan raya utama masyarakat kita pada zaman dahulu adalah sungai.

Maka kalau kita lihat dari peta, dua sungai besar itu di ka¬wasan pulau Sumatera bagian tengah ini ha¬nya satu, yaitu daerah yang terdapat antara Hulu Sungai Kampar dengan Batang Sinamar (Kuantan/Indragiri). Kawasan ini berada antara Maek dan Mungka. Tepatnya yaitu di Bukit Batu Bulan di Nagari Talang Maua.

Daerah ini juga bera¬da tepat tidak jauh dari garis Khatulistiwa. Kemudian kalau ditinjau dari asal usul katanya menurut Bahasa tamil, maka kata Talang itu berasal dari kata Ta yang berarti besar dan Lang adalah bandar. Jadi Talang artinya bandar besar.

Keberadaan Bukit Batu Bulan ini dapat di¬gambarkan sebagai berikut : Satu sisinya turun ke Batang Kampar di Maek, sedangkan sisi yang lain turun ke Batang Sinamar yang kehilirnya dike-nal juga sebagai Batang Kuan¬tan atau Sungai Indragiri.

Di atas bukit ini terdapat beberapa situs yang merupakan bekas pusat perdagangan besar seperti Ranah Pokan Akad, Ranah Pokan Selasa, Ra¬nah Pokan Komih, Ronah Pokan Jumat, Ra-nah Pokan Sabtu,dll.

Tempat ini jelas pernah mempertemukan pedagang yang naik dari dua sungai besar, yaitu yang naik lewat Batang Kampar dan dan yang naik dari Batang Kuantan (Indragiri). Namun untuk memastikan hal ini ma¬sih diperlukan penelitian lebih lanjut.

DARI KATA PINANG KHABU

Prof.Van der Tuuk, seorang profesor kebangsaan Belanda mengatakan bahwa Minangkabau merupakan Pinang Khabu. Yaitu tanah pangkal, tanah asal atau tanah leluhur.. Pendapat ini dikuatkan pula oleh pernyataan Thomas Stanford Raffles, seorang ahli kebangsaan Inggris yang pernah menjabat Gubernur Jenderal Inggris di Indonesia pada tahun 1811 hingga 1818.

Pernyatan ini tertuang di dalam kete¬rangan¬nya setelah melakukan penjelajahan ke berbagai pelosok nagari dan hutan-hutan di wilayah Suma¬tera Tengah. Dalam sebuah catatannya Raffles menyatakan bahwa : “…. Di sini kita menemukan bekas-bekas suatu kerajaan besar (Minangkabau) yang namanya hampir-hampir tidak kita kenal sama sekali, tetapi sangat nyata merupakan tempat asal bangsa-bangsa Melayu yang bertebaran di Kepulauan Nusantara.”

Untuk memudahkan kita mengingat per¬ja¬lanan Raffles ini, nama bunga Raf¬lesia ada¬¬lah salah satu kenang-kenangan untuk meng¬abadikan penjelajahan alam yang dilakukan Raffles tersebut. Raflesia maksud¬nya yaitu na¬ma bagi sejenis bunga raksasa yang dite¬mukan oleh Raffles. Di Ranah Mi¬nang kita bia¬sa menyebutnya dengan Bungo Bangkai.

Pernyataan bahwa Minangkabau merupa¬kan tanah asal ini didukung pula oleh banyak data dan fakta. Apalagi semua suku bangsa Melayu menurut sejarah memang berasal dari Minangkabau. Seperti Melayu Riau, Jambi, Deli, Aceh, Palembang, Melayu Semenanjung, Kalimantan, dan Bugis. Bahkan Suku Kubu, Sakai, Talang Mamak, Suku Anak Laut di Selat Malaka, dll, mengaku berasal dari Minangkabau.

Bukti lain tentang hal ini misalnya seperti pengakuan yang terpahat menjadi prasasti di makam Seri Sultan Tajuddin di Brunai yang antara lain berbunyi sebagai berikut :

“Maka Seri Sultan Tajuddin memerintah¬kan kepada Tuan Haji Khatib Abdul Latif supaya me¬ne¬rangkan silsilah ini agar diketahui anak cucu, raja yang mempunyai tahta kerajaan di Negara Bru¬nai Darussalam turun-temurun yang meng¬ambil pusaka nobat negara dan genta alamat dari negeri Johor Kamalul Maqam, yang mengambil pusaka nobat negara dan alamat dari Minang¬kabau nagari Andalas…dst”.

Parasasti ini menggambarkan bahwa orang-orang Melayu yang berada di Semenanjung Malaysia sekarang juga berasal dari Minangkabau. Misalnya seperti yang di Johor, Selangor, Malaka, Pahang, dll. Bahkan sampai ke generasi yang paling akhir, yaitu yang kemudian menghuni Negeri IX. Menurut sejarah, umumnya mereka ini menyeberang Selat Malaka setelah melewati aliran Batang Rokan dan Batang Kampar.

DARI KATA MENON COBOS

Menurut Prof.Dr.Muhamad Hussein Nainar, seorang guru besar di Universitas Madras. Menurutnya kata Minangkabau berasal dari kata Menon Cobos.

Menon Cobos artinya adalah tanah mulia atau tanah murni. Dianggap sebagai tanah mur¬ni atau tanah mulia karena daerah ini juga dianggap sebagai tempat asal para leluhur orang-orang Melayu.

DARI KATA BINANGA KANVAR

Menurut Prof.Sutan Muhammad Zain kata Minangkabau berasal dari Binanga Kanvar. Binanga Kanvar artinya adalah muara Sungai Kampar. Menurutnya di Muara Sungai Kampar inilah bermulanya kera¬jaan Minangkabau.

Pendapat lain yang senada dengan Prof.Sutan Muhammad Zain adalah pernyataan seorang kebangsaan Cina yang bernama Chan Yu Kua. Pernyataan ini ia tuliskan di dalam catatan perjalanannya.

Di dalam catatan itu ia menerangkan bahwa sewaktu ia pernah datang ke Muara Kampar pada abad ke 13. Dijelaskannya bahwa di Muara Kampar itu didapatinya sebuah bandar dagang yang paling ramai di pusat Pulau Sumatera. Catatan ini mengingatkan kita pada catatan serupa dari pendahulunya, I-Tsing beberapa abad sebelumnya.


DARI KATA MINA KAMBWA

Sewaktu melakukan penelitian untuk pendalaman materi di beberapa buku ini, saya (Yulfian Azrial, 2011) melihat bahwa kata Minangkabau juga bisa berasal dari istilah dalam bahasa Sanskerta, yaitu kata Mina Kambwa. Mina Kabwa artinya negeri Pilar Naga atau negeri Pilar Langit yang terdiri dari deretan Gunung Berapi.
Dari segi etimologi, kata mina dalam Bahasa Sanskerta berarti Naga. Dalam kisah-kisah Hindu Kuno, istilah Mina atau Naga sering digambarkan sebagai simbol dari gugusan gunung berapi yang terdapat di pegunungan Bukit Barisan sekarang. Sedangkan Kambwa atau Skambwa berati pilar atau semacam tiang penyangga langit. Jadi Mina Kambwa artinya tiang atau pilar penyangga langit yang terdiri dari gugusan gunung berapi.

Istilah Mina Kambwa ini sering disebut dalam mandala-mandala Hindu. Dalam mandala-mandala Hindu seperti dalam Shri Yantra dan Kalachakra Mandala, deretan gunung merapi di gugusan pegunungan bukit barisan ini sering disebut sebagai Gunung Meru atau Gunung Suci sorga. Gunung yang terbesar dan tertinggi disebut Gunung Mahameru yang sering dilambangkan dengan piramida besar. Gunung ini oleh sebagian besar ahli diduga adalah Gunung Krakatau yang meletus pada tahun 11.600 SM.

Pada saat itu gunung tersebut meledak dengan ledakan supervuklanis-nya, yang membuat gunung itu runtuh seperti balon yang bocor. Puncak gunung yang semula tinggi ini tenggelam di bawah laut, berubah menjadi kaldera raksasa. Asap dan debunya bahkan menutupi hampir seluruh langit dunia. Hal yang membuat para ahli Geologi dan Fisikawan nuklir berpendapat bahwa inilah yang menyebabkan berakhirnya Zaman Es Pleistosen.16

Sebelum meletusnya Gunung Krakatau digambarkan bahwa di kawasan ini terdapat puncak-puncak peradaban dunia yang kemudian menyebar ke belahan dunia lain.17 Untuk mengenang peradaban di tanah leluhurnya ini, maka di berbagai tempat penyebarannya ditemukan banyak simbol tentang segitiga. Simbol yang melambangkan Gunung Meru atau Gunung Suci sorga.

Bahkan di sejumlah tempat dibangun sejumlah duplikat Gunung Meru ini yang lazim disebut piramida. Misalnya seperti yang ditemukan di Mesir, Mesopotamia, Yunani, pada suku Maya, dan suku Aztek di benua Amerika. Bahkan dengan meletakkan jenazah di dalam bangunan ini, dibayangkan oleh mereka sebagai meletakkan para almarhum di perut Gunung Sorga.

(Dikutip dari Buku Budaya Alam Minangkabau, Yulfian Azrial, Jilid 4)


Yulfian Azrial, adalah Kepala Balai Kajian, Konsultansi, dan Pemberdayaan (BKPP) Nagari Adat Alam Minangkabau, Ketua Bidang Penelitian, Pengkajian dan Penulisan Masyarakat Sejarawan Indonesia Luhak Limopuluah. Penulis Buku Budaya Alam Minangkabau.