Senin, April 19

ASAL-USUL NAMA MINANGKABAU MENURUT PARA AHLI

Oleh : Yulfian Azrial

Pendapat tentang asal-usul nama Minangkabau sangat beragam. Ada yang berasal dari cerita rakyat, yaitu pendapat yang ber¬kembang dari mulut ke mulut. Ada pula asal-usul nama Minangkabau yang tertuang dalam Tambo Alam Minangkabau.
Karena masa terus berkembang, dilakukan pula penelitian oleh para ahli. Baik ahli sejarah, Ahli Sosiologi, Antropologi, dan lain-lain. Sehingga dari penelitian ini terungkap pula sejumlah kata yang menjadi asal-usul nama Minangkabau menurut pendapat para ahli tersebut. Sampai sekarang belum dapat dipastikan dengan jelas mana asal-usul na¬ma Minangkabau yang sebenarnya.


Namun demikian, dengan semakin meningkatnya kecerdasan manu¬sia, maka pendapat yang lebih banyak dipercayai orang adalah asal-usul nama Minangkabau menurut para ahli ini. Karena pendapat ini telah melewati proses penelitian yang juga diku¬atkan bukti-bukti dengan melewat proses ka¬jian ilmiah yang didasarkan pada pendekatan yang bisa dipertanggungjawabkan sesuai dengan rujukan ilmu pengetahuan.
Berikut adalah beberapa asal nama Minangkabau menurut pendapat para para ahli tersebut :

DARI KATA MINANGA TAMWAN


Prof.Dr.Poerbacaraka mengatakan bahwa nama Minang¬ka¬bau berasal dari kata dalam bahasa Sangsekerta yaitu Minanga Tamwan. Kata-kata ini terdapat dalam Prasasti Kedukan Bukit.

Prasasti Kedukan Bukit adalah prasasti yang menceritakan tentang kisah perluasan wi¬layah Minanga Tamwan. Yaitu perlu¬as¬an wi¬la¬yah yang bermula dari kemenangan utusan Raja Minanga Tam¬wan yang dipimpin Datuk Cribijaya (Dt.Sibijayo, Panglima Perang Mi¬nanga Tamwan) melawan Bajak Laut yang banyak meresahkan masyarakat di sekitar Sungai Palembang (Sungai Musi) sekarang.

Dalam prasasti ini disebutkan antara lain,
“Yang Dipertuan Hyang melepas duapuluh laksa
tentara dari Minanga Tamwan yang dipimpin
Cribijaya (Dt.Sibijayo) melalui perja¬lanan suci,
dengan tujuan memperluas negara hingga
men¬datangkan kemakmuran.”


Semua ini dituangkan Prof.Dr.Poerba¬ca¬ra¬ka dalam bukunya Riwayat Indonesia I. Hanya saja di manakah letak daerah Minanga Tam¬wan itu, hingga saat ini masih men¬jadi perde¬batan. Menurut keterengan Prof.Dr.Poerbacaraka yang disebut Minanga Tamwan itu adalah daerah yang terletak di antara dua Sungai Besar yang bertemu.

Sebagian ahli ada yang menduga bahwa dua sungai besar itu adalah Kam¬¬par Kiri dan Kampar Kanan. Namun bila yang dimaksud adalah Sungai Kampar Kiri dan Kam¬par Kanan, maka ke¬mungkinan besar daerah terse¬but ada di sekitar Muara Takus.
Menurut hasil penelitian dan kajian penu¬lis sendiri bersama Masyarakat

Sejarahawan Indonesia (MSI) Luhak Limopuluah (Yulfian Azrial,dkk-2003), Mina¬nga Tamwan bisa saja bukanlah dimaksudkan seba¬gai per¬temuan antara dua sungai besar secara fisik. Karena pertemuan sungai secara fisik tentu lebih lazim dise¬but sebagai muara bukannya Minanga Tamwan.

Tetapi Minanga Tamwan justru bisa saja menunjuk¬kan suatu daerah atau kawasan yang menjadi tempat perte¬muan masyarakat dari dua sungai besar. Hal ini karena jalan raya utama masyarakat kita pada zaman dahulu adalah sungai.

Maka kalau kita lihat dari peta, dua sungai besar itu di ka¬wasan pulau Sumatera bagian tengah ini ha¬nya satu, yaitu daerah yang terdapat antara Hulu Sungai Kampar dengan Batang Sinamar (Kuantan/Indragiri). Kawasan ini berada antara Maek dan Mungka. Tepatnya yaitu di Bukit Batu Bulan di Nagari Talang Maua.

Daerah ini juga bera¬da tepat tidak jauh dari garis Khatulistiwa. Kemudian kalau ditinjau dari asal usul katanya menurut Bahasa tamil, maka kata Talang itu berasal dari kata Ta yang berarti besar dan Lang adalah bandar. Jadi Talang artinya bandar besar.

Keberadaan Bukit Batu Bulan ini dapat di¬gambarkan sebagai berikut : Satu sisinya turun ke Batang Kampar di Maek, sedangkan sisi yang lain turun ke Batang Sinamar yang kehilirnya dike-nal juga sebagai Batang Kuan¬tan atau Sungai Indragiri.

Di atas bukit ini terdapat beberapa situs yang merupakan bekas pusat perdagangan besar seperti Ranah Pokan Akad, Ranah Pokan Selasa, Ra¬nah Pokan Komih, Ronah Pokan Jumat, Ra-nah Pokan Sabtu,dll.

Tempat ini jelas pernah mempertemukan pedagang yang naik dari dua sungai besar, yaitu yang naik lewat Batang Kampar dan dan yang naik dari Batang Kuantan (Indragiri). Namun untuk memastikan hal ini ma¬sih diperlukan penelitian lebih lanjut.

DARI KATA PINANG KHABU

Prof.Van der Tuuk, seorang profesor kebangsaan Belanda mengatakan bahwa Minangkabau merupakan Pinang Khabu. Yaitu tanah pangkal, tanah asal atau tanah leluhur.. Pendapat ini dikuatkan pula oleh pernyataan Thomas Stanford Raffles, seorang ahli kebangsaan Inggris yang pernah menjabat Gubernur Jenderal Inggris di Indonesia pada tahun 1811 hingga 1818.

Pernyatan ini tertuang di dalam kete¬rangan¬nya setelah melakukan penjelajahan ke berbagai pelosok nagari dan hutan-hutan di wilayah Suma¬tera Tengah. Dalam sebuah catatannya Raffles menyatakan bahwa : “…. Di sini kita menemukan bekas-bekas suatu kerajaan besar (Minangkabau) yang namanya hampir-hampir tidak kita kenal sama sekali, tetapi sangat nyata merupakan tempat asal bangsa-bangsa Melayu yang bertebaran di Kepulauan Nusantara.”

Untuk memudahkan kita mengingat per¬ja¬lanan Raffles ini, nama bunga Raf¬lesia ada¬¬lah salah satu kenang-kenangan untuk meng¬abadikan penjelajahan alam yang dilakukan Raffles tersebut. Raflesia maksud¬nya yaitu na¬ma bagi sejenis bunga raksasa yang dite¬mukan oleh Raffles. Di Ranah Mi¬nang kita bia¬sa menyebutnya dengan Bungo Bangkai.

Pernyataan bahwa Minangkabau merupa¬kan tanah asal ini didukung pula oleh banyak data dan fakta. Apalagi semua suku bangsa Melayu menurut sejarah memang berasal dari Minangkabau. Seperti Melayu Riau, Jambi, Deli, Aceh, Palembang, Melayu Semenanjung, Kalimantan, dan Bugis. Bahkan Suku Kubu, Sakai, Talang Mamak, Suku Anak Laut di Selat Malaka, dll, mengaku berasal dari Minangkabau.

Bukti lain tentang hal ini misalnya seperti pengakuan yang terpahat menjadi prasasti di makam Seri Sultan Tajuddin di Brunai yang antara lain berbunyi sebagai berikut :

“Maka Seri Sultan Tajuddin memerintah¬kan kepada Tuan Haji Khatib Abdul Latif supaya me¬ne¬rangkan silsilah ini agar diketahui anak cucu, raja yang mempunyai tahta kerajaan di Negara Bru¬nai Darussalam turun-temurun yang meng¬ambil pusaka nobat negara dan genta alamat dari negeri Johor Kamalul Maqam, yang mengambil pusaka nobat negara dan alamat dari Minang¬kabau nagari Andalas…dst”.

Parasasti ini menggambarkan bahwa orang-orang Melayu yang berada di Semenanjung Malaysia sekarang juga berasal dari Minangkabau. Misalnya seperti yang di Johor, Selangor, Malaka, Pahang, dll. Bahkan sampai ke generasi yang paling akhir, yaitu yang kemudian menghuni Negeri IX. Menurut sejarah, umumnya mereka ini menyeberang Selat Malaka setelah melewati aliran Batang Rokan dan Batang Kampar.

DARI KATA MENON COBOS

Menurut Prof.Dr.Muhamad Hussein Nainar, seorang guru besar di Universitas Madras. Menurutnya kata Minangkabau berasal dari kata Menon Cobos.

Menon Cobos artinya adalah tanah mulia atau tanah murni. Dianggap sebagai tanah mur¬ni atau tanah mulia karena daerah ini juga dianggap sebagai tempat asal para leluhur orang-orang Melayu.

DARI KATA BINANGA KANVAR

Menurut Prof.Sutan Muhammad Zain kata Minangkabau berasal dari Binanga Kanvar. Binanga Kanvar artinya adalah muara Sungai Kampar. Menurutnya di Muara Sungai Kampar inilah bermulanya kera¬jaan Minangkabau.

Pendapat lain yang senada dengan Prof.Sutan Muhammad Zain adalah pernyataan seorang kebangsaan Cina yang bernama Chan Yu Kua. Pernyataan ini ia tuliskan di dalam catatan perjalanannya.

Di dalam catatan itu ia menerangkan bahwa sewaktu ia pernah datang ke Muara Kampar pada abad ke 13. Dijelaskannya bahwa di Muara Kampar itu didapatinya sebuah bandar dagang yang paling ramai di pusat Pulau Sumatera. Catatan ini mengingatkan kita pada catatan serupa dari pendahulunya, I-Tsing beberapa abad sebelumnya.


DARI KATA MINA KAMBWA

Sewaktu melakukan penelitian untuk pendalaman materi di beberapa buku ini, saya (Yulfian Azrial, 2011) melihat bahwa kata Minangkabau juga bisa berasal dari istilah dalam bahasa Sanskerta, yaitu kata Mina Kambwa. Mina Kabwa artinya negeri Pilar Naga atau negeri Pilar Langit yang terdiri dari deretan Gunung Berapi.
Dari segi etimologi, kata mina dalam Bahasa Sanskerta berarti Naga. Dalam kisah-kisah Hindu Kuno, istilah Mina atau Naga sering digambarkan sebagai simbol dari gugusan gunung berapi yang terdapat di pegunungan Bukit Barisan sekarang. Sedangkan Kambwa atau Skambwa berati pilar atau semacam tiang penyangga langit. Jadi Mina Kambwa artinya tiang atau pilar penyangga langit yang terdiri dari gugusan gunung berapi.

Istilah Mina Kambwa ini sering disebut dalam mandala-mandala Hindu. Dalam mandala-mandala Hindu seperti dalam Shri Yantra dan Kalachakra Mandala, deretan gunung merapi di gugusan pegunungan bukit barisan ini sering disebut sebagai Gunung Meru atau Gunung Suci sorga. Gunung yang terbesar dan tertinggi disebut Gunung Mahameru yang sering dilambangkan dengan piramida besar. Gunung ini oleh sebagian besar ahli diduga adalah Gunung Krakatau yang meletus pada tahun 11.600 SM.

Pada saat itu gunung tersebut meledak dengan ledakan supervuklanis-nya, yang membuat gunung itu runtuh seperti balon yang bocor. Puncak gunung yang semula tinggi ini tenggelam di bawah laut, berubah menjadi kaldera raksasa. Asap dan debunya bahkan menutupi hampir seluruh langit dunia. Hal yang membuat para ahli Geologi dan Fisikawan nuklir berpendapat bahwa inilah yang menyebabkan berakhirnya Zaman Es Pleistosen.16

Sebelum meletusnya Gunung Krakatau digambarkan bahwa di kawasan ini terdapat puncak-puncak peradaban dunia yang kemudian menyebar ke belahan dunia lain.17 Untuk mengenang peradaban di tanah leluhurnya ini, maka di berbagai tempat penyebarannya ditemukan banyak simbol tentang segitiga. Simbol yang melambangkan Gunung Meru atau Gunung Suci sorga.

Bahkan di sejumlah tempat dibangun sejumlah duplikat Gunung Meru ini yang lazim disebut piramida. Misalnya seperti yang ditemukan di Mesir, Mesopotamia, Yunani, pada suku Maya, dan suku Aztek di benua Amerika. Bahkan dengan meletakkan jenazah di dalam bangunan ini, dibayangkan oleh mereka sebagai meletakkan para almarhum di perut Gunung Sorga.

(Dikutip dari Buku Budaya Alam Minangkabau, Yulfian Azrial, Jilid 4)


Yulfian Azrial, adalah Kepala Balai Kajian, Konsultansi, dan Pemberdayaan (BKPP) Nagari Adat Alam Minangkabau, Ketua Bidang Penelitian, Pengkajian dan Penulisan Masyarakat Sejarawan Indonesia Luhak Limopuluah. Penulis Buku Budaya Alam Minangkabau.

30 komentar:

  1. Sejarah Melayu sesungguhnya berasal dari Kawasan Sumatera Selatan, khususnya Palembang. Bukti-bukti dalam bentuk prasasti dan candi ditemukan di kawasan ini, bahkan Tun Sri Lanang dalam bukunya yang berjudul "Sejarah Melayu" mengatakan bahwa melayu itu berasal dari Bukti Siguntang, bukit ini letaknya di kawasan Kecamatan Ilir Barat I Kota Palembang, sekarang dijadikan kawasan wisata arkeologi makam-makam Raja Sriwijaya. Bahasa yang dipakaipun adalah bahasa Melayu, dengan logat "o" diujung kata, seperti kemana=kemano, dll. Di Sumatera Selatan, ada dialek O, E, E (pepet), dan juga ditemui di Bangka, Belitung, Jambi, Bengkulu, Pontianak, Riau Kepulauan, Malaysia, Brunei. Beda dengan bahasa Batak, Minang, Aceh atau Lampung. Jadi Sumatera Selatan (Palembang) dengan kerajaan Sriwijaya, merupakan asal mula bangsa Melayu, dan hal ini pun diakui oleh Malaysia, Thailand Selatan, dan Sejarah Indonesia.

    BalasHapus
  2. “Minangkabau” terdiri dari dua kata, “Minang” dan “kabau”. “Minang” berarti menang atau besi, dan “kabau” berarti kerbau. Sebuah legenda bercerita mengenai asal usul penamaan ini. Konon dahulu seorang penguasa dari jawa berusaha untuk menaklukan melayu. Rakyat minangkabau berusaha menghindari peperangan dan mengajukan sebuah pertandingan adu kerbau sebagai gantinya. Penguasa dari pulau jawa tersebut menggunakan seekor kerbau besar dan ganas yang susah dicari tandingannya. Cerdik pandai berkumpul, berembuk, memutar otak untuk mencari lawan yang sepadan buat si kerbau. Didapatlah ide untuk untuk menggunakan anak kerbau yang masi menyusu. Akan tetapi anak kerbau tersebut dipisahkan dari induknya sehingga kelaparan. Sebelumnya pada anak kerbau tersebut dipasangkan tanduk buatan dari besi yang ditajamkan. Alhasil si anak kerbau tersebut sewaktu dilepaskan di pertandingan, langsung menyeruduk ke bawah kerbau lawan dengan maksud untuk menyusu, hasilnya tanduk besi tersebut merobek-robek perut si kerbau besar dan robohlah kerbau itu. rakyat setempat berjaya dalam perebutan tanah tanpa adanya peperangan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salah besar itu, cerita itu bikinan belanda secara logika aja

      Hapus
    2. yang betl itu sejarah yang ceritanya menrut para ahlinya, bukan dri cerita turun temurun, hrus ada penelitan dong.. yang buat cerita diatas kan ada referensinya t klw ga percaya juga.. wkwkwk

      Hapus
  3. Minanga merupakan salah satu nama dari Kerajaan Melayu yang telah muncul pada tahun 645. Berita tentang keberadaan kerajaan ini didapat dari buku T'ang-Hui-Yao yang disusun oleh Wang p'u pada tahun 961 masa Dinasti Tang, dimana kerajaan ini mengirimkan utusan ke Cina pada tahun 645 untuk pertama kalinya[1]. Kemudian didukung oleh Prasasti Kedukan Bukit yang bertarikh 682.

    Asal Usul

    Dari Prasasti Kedukan Bukit, disebutkan bahwa Dapunta Hyang raja Sriwijaya bertolak dari Minanga, dengan membawa puluhan ribu tentara lengkap dengan perbekalan, setelah menaklukkan daerah tersebut[2]. Berita tentang Kerajaan Melayu ini juga disebut dalam catatan perjalanan Pendeta I-tsing atau I Ching (義淨; pinyin Yì Jìng) (634-713) identik dengan dengan kerajaan ini[3].

    Selain dari berita buku T'ang-Hui-Yao, dari buku Tse-fu-yuan-kuei pada masa Dinasti Song yang dibuat atas dasar sejarah lama oleh Wang-ch'in-jo dan Yang I antara tahun 1005 dan 1013, juga menceritakan adanya utusan dari Kerajaan Melayu datang ke Cina antara tahun 644 dan 645.

    Namun belum ada sumber yang menyebutkan dimana lokasi persisnya tempat yang menjadi ibukotanya serta siapa yang menjadi raja di kerajaan ini.
    [sunting] Sumber Cina
    ChineseText.png Artikel ini mengandung karakter Asia Timur (Hanzi, Kanji, Katakana, Hiragana, Hangeul, Hanja dan Chu Nom).
    Tanpa sokongan karakter multibahasa, Anda mungkin melihat tanda tanya, kotak, atau lambang selain dari karakter yang dimaksud.
    Artikel ini memuat teks berbahasa Tionghoa. Tanpa sokongan multibahasa, Anda mungkin akan melihat tanda tanya, tanda kotak, atau karakter lain selain dari karakter yang dimaksud.

    Pada masa Dinasti Yuan dan Dinasti Ming, kata Ma-La-Yu disebutkan sering (dalam sejarah cina) untuk merujuk kepada suatu bangsa dari laut selatan dengan ejaan yang berbeda akibat perubahan dinasti.

    * (Cina: 木 剌 由)- Bok-la-yu, Mok-la-yu
    * (Cina: 麻 里 予 儿) - Ma-li-yu-er
    * (Cina: 巫 来由) - Oo-lai-yu (dijiplak dari sumber tertulis biarawan Xuan Zang)
    * (Cina: 无 来由) - Wu-lai-yu

    Sebagian ekstrak dari Chronicle asli Mongol Yuan (dalam bahasa Cina): Chronicle of Mongol Yuan

    "以 暹 人 与 麻 里 予 儿 旧 相 仇杀, 至 是 皆 归顺, 有 旨 谕 暹 人" 勿 伤 麻 里 予 儿, 以 践 尔 言 ".

    [sunting] Perdagangan

    Dengan adanya perlindungan dari Cina, Kerajaan Minanga menjadi penguasa lalu lintas Selat Malaka saat itu, dan memiliki hasil tambang emas dan perak.

    [sunting] Penurunan

    Berdasarkan Prasasti Kedukan Bukit, di tahun 682 Kerajaan Minanga takluk dan menjadi bahagian dari kekuasaan Kerajaan Sriwijaya.
    [sunting] Referensi

    1. ^ Slamet Muljana, 2006, Sriwijaya, Yogyakarta: LKIS.
    2. ^ George Cœdès, 1930, Les inscriptions malaises de Çrivijaya, BEFEO.
    3. ^ Gabriel Ferrand, 1922, L’Empire Sumatranais de Crivijaya, Imprimerie Nationale, Paris, “Textes Chinois”.

    BalasHapus
  4. Prasasti Kedukan Bukit ditemukan oleh M. Batenburg pada tanggal 29 November 1920 di Kampung Kedukan Bukit, Kelurahan 35 Ilir, Palembang, Sumatra Selatan, di tepi Sungai Tatang yang mengalir ke Sungai Musi. Prasasti ini berbentuk batu kecil berukuran 45 × 80 cm, ditulis dalam aksara Pallawa, menggunakan bahasa Melayu Kuna. Prasasti ini sekarang disimpan di Museum Nasional Indonesia dengan nomor D.146.

    BalasHapus
  5. Prasasti Kedukan Bukit
    1. svasti śrī śakavaŕşātīta 605 (604 ?) ekādaśī śu
    2. klapakşa vulan vaiśākha dapunta hiya<m> nāyik di
    3. sāmvau mangalap siddhayātra di saptamī śuklapakşa
    4. apunta hiyavulan jyeşţha d<m> maŕlapas dari minānga
    5. vala dualakşa dangan ko-(sa)tāmvan mamāva yam
    6. duaratus cāra di sāmvau dangan jālan sarivu
    7. di mata japtlurātus sapulu dua vañakña dātam
    8. sukhacitta di pañcamī śuklapakşa vula...
    9. marvuat vanua...laghu mudita dātam
    10. śrīvijaya jaya siddhayātra subhikşa...
    [sunting] Alih Bahasa
    1. Selamat ! Tahun Śaka telah lewat 604, pada hari ke sebelas
    2. paro-terang bulan Waiśakha Dapunta Hiyang naik di
    3. sampan mengambil siddhayātra. di hari ke tujuh paro-terang
    4. bulan Jyestha Dapunta Hiyang berlepas dari Minanga
    5. tambahan membawa bala tentara dua laksa dengan perbekalan
    6. dua ratus cara (peti) di sampan dengan berjalan seribu
    7. tiga ratus dua belas banyaknya datang di mata jap (Mukha Upang)
    8. sukacita. di hari ke lima paro-terang bulan....(Asada)
    9. lega gembira datang membuat wanua....
    10. Śrīwijaya jaya, siddhayātra sempurna....
    [sunting] Keterangan
    Pada baris ke-8 terdapat unsur pertanggalan. Namun bagian akhir unsur pertanggalan pada prasasti ini telah hilang. Seharusnya bagian itu diisi dengan nama bulan. Berdasarkan data dari fragmen D.161 yang ditemukan di Situs Telaga Batu, J.G. de Casparis (1956:11-15) dan Boechari (1993: A1-1-4) mengisinya dengan nama bulan Āsāda. Maka lengkaplah pertanggalan prasasti tersebut, yaitu hari kelima paro-terang bulan Āsāda yang bertepatan dengan tanggal 16 Juni 682 Masehi.[2]
    Menurut George Cœdès, siddhayatra berarti semacam “ramuan bertuah” (potion magique). Tetapi kata ini bisa pula diterjemahkan lain, yaitu menurut kamus Jawa Kuna Zoetmulder (1995): “sukses dalam perjalanan”. Dengan ini kalimat di atas ini bisa diubah: “Sri Baginda naik sampan untuk melakukan penyerangan, sukses dalam perjalanannya.”
    Dari prasasti Kedukan Bukit, didapatkan data-data sebagai berikut[3]:
    1. Dapunta Hyang naik perahu tanggal 11 Waisaka 604 (23 April 682)
    2. Dapunta Hyang berangkat dari Minanga tanggal 7 Jesta (19 Mei) dengan membawa lebih dari 20.000 balatentara. Rombongan lalu tiba di Muka Upang.
    3. Dapunta Hyang membuat ‘wanua’ tanggal 5 Asada (16 Juni)
    Selanjutnya kata Minanga yang terdapat pada prasasti ini masih menjadi perbincangan para sejarahwan. Ada yang berpendapat Dapunta Hyang berangkat dari Minanga dan menaklukan kawasan tempat ditemukannya prasasti ini.[4] Ada juga berpendapat Minanga tidak sama dengan Malayu, kedua kawasan itu ditaklukan oleh Dapunta Hyang, dimana penaklukan Malayu terjadi sebelum menaklukan Minanga dengan menganggap isi prasasti ini menceritakan penaklukan Minanga.[5] Kemudian ada yang berpendapat Minanga berubah tutur menjadi Binanga, sebuah kawasan yang terdapat pada sehiliran Sungai Barumun (provinsi Sumatera Utara sekarang).[6]

    BalasHapus
  6. Jangan percaya dengan TUN SRI LANANG!
    Tun Sri Lanang adalah aktor intelektual pemecah belah melayu dengan bukunya yang menyelewengkan sejarah melayu yg bernama SULALATUS SALATIn (istana para raja)!
    SULALATUS SALATIN ibarat buku satanic verses, yg mengadu domba ummat melayu, karena buku ini diambil di GOA (Sulawesi selatan), diperintah oleh RAJA JOHOR yang waktu itu tengah berkelahi dengan RAJA KECIK dari PAGARRUYUNG, Tun Sri Lanang yg waktu itu ikut faksi JOHOR-BUGIS telah menambahkan dan merubah sejarah melayu dengan menjelek2an MINANGKABAU dan mengadudomba melayu, sehingga saat ini minangkabau dan melayu johor jadi melayu yang berlawanan arah!

    LINK: http://id.wikipedia.org/wiki/Sulalatus_Salatin

    BalasHapus
  7. Sebagai pembanding lingustik dari asal-usul kata "Minangkabau" silakan lihat Minangkabau Hebrew, dan mohon beri komentar. Trims.

    BalasHapus
  8. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  9. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  10. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  11. Minanga Tamwan tidak sama dengan Minang.

    Istilah minang baru ada setelah eksistensinya kerajaan Pagaruyung.

    Konon ( Boleh Percaya boleh tidak ) kata2 Minang merujuk kepada keluarga Kerajaan Malayu atau Dharmasraya yg sebelumnya berdiri di hulu Batang Hari, yg mana kerajaan ini merupakan penerus Kerajaan Sriwijaya yang sudah runtuh, karena terus berperang dan terdesak oleh serbuan raja Singosari yang di pimpin oleh Mahisa Anabrang atau Kebo Anabrang dari jawa ( Ekspedisi Pamalu ) yg tercatat dalam kitab pararaton. maka pusat kerajaanpun di pindahkan ke wilayah pegunungan atau pagaruyung saat ini, untuk mempersulit pencarian tentara Singosari

    Dan untuk mengakhiri peperangan dengan kerajaan Dharmasraya dengan cara diplomasi akhirnya Raja Kertanegara dari Singosari kembali mengutuskan Mahisa Anabrang ( Kebo Anabrang )untuk memberikan "Arca Amoghapasa" kepada raja Dharmasraya yg telah memindahkan pusat kerajaan nya wilayah pegunungan atau wilayah Pagaruyung saat ini.

    Setelah Mahisa Anabrang atau beliau biasa di panggil Kebo Anabrang menyerahkan arca tersebut kepada Raja Dharmasraya, sebagai balasan Raja Dharmasraya menghadiahkan dua putrinya Dara Petak dan Dara Jingga untuk di bawa ke tanah Jawa.

    Rakyat di seputar istana Kerajaan mengira Raja Dharmasraya menikahkan, atau meminang seorang panglima perang ekspedisi Pamalayu yaitu Kebo Anabrang yg artinya Kerbau yg menyebrang untuk di jadikan suami 2 putri nya dan di bawa ke tanah Jawa.

    Dari sinilah konon di perdengarkan istilah "Minang Kabau", karena Kerbau dalam dialek rakyat tempatan adalah Kabau, yang mana Istilah ini meluas sebagai penyebutan orang2 yg mendiami wilayah Pagaruyung saat ini

    Padahal Dara Petak di nikahkan dengan Prabu Kertanegara sementara Dara Jingga akhirnya menikah dengan seorang petinggi di Singosari yg bernama adwayawarman yg kelak melahirkan seorang Adityawarman. ( Penerus Dinasti Wangsa Mauli, Raja pertama Pagaruyung atau Raja Terakhir Dharmasraya yg sebelumnya berada di Huluan Batang Hari )

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sngat percaya anda publikasikan ardi ardiles, saya putra minang berkeyakinan orang minang itu bagian dr melayu

      Hapus
  12. .....Cukup menarik komentar tuan Anonimous. Sayangnya terlalu terkesan tendensius dan subjektif, sehingga sangat sulit untuk dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Hendaknya dalam mengomentari sesuatu apalagi sejarah, janganlah biasakan pakai jurus lempar batu sembunyi tangan.

    Apalagi komentar ini didahului oleh kata, ".........Sejarah Melayu sesungguhnya berasal dari Kawasan Sumatera Selatan.....'" suatu pernyataan yang tentu hanya saksi sejarah yang bisa melontarkannnya. Sedang saya yakin anda belum lahir pada waktu itu. Akibatnya, walau mungkin saja ada bagian kecil dari komentar anda ini yang benar, namun semua telah menjadi cedera dan membahayakan untuk dipercaya...

    BalasHapus
  13. Bung Ardi Ardiles tampaknya lebih jujur saya sangat menghargai. Sehingga jelas-jelas kalau ini bukan referensi sejarah, sesuai dengan yang ditulisnya, ".......Konon ( Boleh Percaya boleh tidak )..!

    BalasHapus
  14. minang atau pun melayu merupakan bangsa yang serumpun dan satu ras bisa kita tengok dalam bahasanya sehari-hari bisa saling mengerti dan lihat pula dari tambo dan prasasti yang ada mungkin orang luar di zaman prasejarah menyebutnya minang dan ada pula melayu yang berkemungkinan bangsa yang dimaksud itu juga .

    BalasHapus
  15. minanga tamwan itu berasal dari sekitar bukit barisan di dekat gunung dempo ini di dukung oleh banyaknya artefak2 pra sejarah disana, selain itu raja2 sriwijaya ber-wangsa syailendra yang berarti orang gunung dan perlu di ketahui di sumatera selatan ada tempat yang bernama minanga, yang tidak di temukan disumatra lainnya

    BalasHapus
  16. Masrul Purba Dasuha25 April 2013 02.10

    Sayang sekali kita menyampaikan pengetahuan kita tanpa menyebutkan nama, padahal kualitas dari konten yang disampaikan sangat logis dan mudah dipahami. Saya seorang pemerhati sejarah dari tanah Batak, mari kita diskusikan hal ini lebih lanjut dan mendalam di facebook agar bisa kita lebih leluasa menindaklanjuti postingan terbaru. Ini facebook saya: Masrul Purba Dasuha

    BalasHapus
  17. Malayu itu menurut sejarahwan adalah terdiri dari 2 kata Mala=malas Yu=layu/lembam.
    Jadi malayu itu= malas dan layu/lembam.jadi,
    Jangan dibanding2kan dg etnis minang yg terkenal ulet dan sukses berusaha.

    BalasHapus
  18. Jangan-jangan, sejarah Sriwijaya memang berawal dari daerah Minangkabau...

    karakter orang-orang Sriwijaya yg ekspansif menuju wilayah baru, diaspora menyebar kemana-mana dan berkarakter gesit, ulet dan berani beresiko, semuanya ada dalam watak para perantau-perantau asal Bumi Minang..

    Sistem darek rantau menjadikan banyak orang-orang minang berlayar jauh menyebar keberbagai wilayah... Pola ini adalah pola orang-orang Sriwijaya masa dulu yg suka berlayar kemana-mana dan siap berjuang... Dan nama Minanga sepertinya mirif dgn nama Minangkabau masa dulu...

    Dikabarkan saat Sriwijaya belum ada, didaerah Palembang yg sekarang penuh dgn rawa....

    Setelah migrasi orang-orang dari Minanga maka dibuatlah sebuah wanua atau kota diwilayah palembang masa dulu... Jadi dulunya Sumatera selatan tidak berpenduduk banyak,barulah terjadi ekspansi kemudian wilayah ini berkembang jadi sebuah kerajaan maritim...

    Joe

    Indramayu, 17 mei 2013

    BalasHapus
    Balasan
    1. http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/11/kedah-kota-penting-sriwijaya

      Hapus
  19. asal kat a minang kabau adalah "mu'minan qanabawiyah"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apa artinya pak.,(mu'minan qanabawiyah)

      Hapus
    2. eriky jeans ardy cantoya6 September 2017 21.39

      Maaf kalo boleh tawu apa arti kata dari mu'minan qanabawiyah pak?���� trima kseh aslm mualaikum wr wb

      Hapus
  20. Kita ngak tau sejarah sebenarnya, apa yg terjadi masa lalu, yg patut diteliti adalah, Negari Mahat dan Suliki,Kabupaten Lima Puluh Kota, yg banyak meningggalkan menhir zaman batu?
    dulunya Negri mahat adalah merupakan daerah yg datar, karena terjadi gempa yg kuat, Negari Mahat berbentuk seperti wajan/kuali...dan menurut penelitian ada candi besar yg terkubur di Negeri Mahat tersebut...yang lebih besar dari candi Muara Takus....
    Disuliki berdasarkan penelitian dan pengalian pada Menhir ada gambar segi tiga 3 buah sejajar, yg diyakini merupakan Piramida...sekrang yg jadi pertanyaaan dimanakah letaknya 3 piramida tersebut??

    BalasHapus
  21. Kalau boleh komentar ... dan bagi yg tertarik dapat melanjutkan dan mencari referensinya ... untuk keperluan akademis. mengkaji hanya sebatas pada jaman kerajaan saja ... trlalu dangkal.. kita kembalikan saja menurut akal dan logika namun tetap mengacu kpada pedoman hidup ... yaitu alquran ... indonesia adalah negara khatulistiwa ... otomatis gk pernah turun salju dan tak pernah menjadi dataran es ... apabila dikaitkan dengan letusan gunung krakatau ... sehingga menjadi bencana terbesar spanjang abad... dan dalam alquran dikisah juga dengan kisah nabi nuh ... sehingga awal dr orang minang kabau dsebutkan dlm sejarah minang merapi sebesar telur itik yg menjadi awal dr pradaban orang minang ... apakah saat itu merapi hanya ada puncaknya saja ataukah daratan terendam air ... semuanya hanya sepenggal kisah lalu ... namun yg pasti orang minang tak kan pernah mau dsebut berasal dr orang melayu ... namun dalam minang kabau terdiri dr beberapa suku ... dan melayu merupakan salah satu dari pecahan suku d minang kabau .. artinya apa? Suku melayu ada lo diminang kabau ... dan itu merupakan salah satu suku yg ada d minang.. artinya ap? Kenapa rendang dklaim sebagai makanan khas malaisya? Knpa orang minang banyak dmalaisya? Knpa lagi orang malaisya banyak blajar k sumatra barat dahulunya? Dan knapa malaisya bisa menjadi sekutu inggris? Nah kita tidak membahas tentng malaisya pastinya ... suku yg ada minang sama hal nya dengan suku2 yg ada d indonesia ... dayak... sunda .. jawa .. dll... namun diminang itu sendiri suku sebagaimana halnya yg ada d indonesia terdiri dr banyak suku namun dibawah satu naungan minang kabau ...makanya di minang banyak kerajaan2 kecil dr stiap suku yg ada ddalamnya ...rumah gadang adalah istana bagi stiap suku2 yg ada ... brbeda dengan sunda dan jawa ... yg hanya satu suku yaitu sunda... dan jawa ... ataupun dikalimantan ... yaitu dayak ... dalam satu pulau atau provinsi ... dsumatra barat sendiri trdapat banyak suku bukan hanya satu suku ... maka dr itu dminang pnya benderanya sendiri ... merah kuning hitam ...dan faktanya di indonesia sampai saat ini tidak ada president yg berasal dr orang minang... kenapa? Dr segi bahasa pengucapan aden dminang= saya ... Sedangkan bagi orang jawa aden adalah pengucapan bagi seseorang yg ditinggikan ... nah wajar diminang seperti itu ... karna orang minang semuanya adalah keturunan para raja ... dan tidak pernah mau dperbudak ... apalagi budak ni ... jadi intinya apakah sebenarnya minang kabau ini? Dan untuk kawasan palembang tempat staynya kerajaan sriwijaya faktanya tidak ada lgi bendera sriwijaya yg berkibar dsana yg ada hanya bendera merah putih .... dan begitupun dengan yg lainnya ... namun dminang warisan simbol adat dr dahulu sampai sekarang masih terkembang... kenapa? Nah orang minang tak pernah menjadi penguasa ataupun pemberontak namun slalu menjadi raja dmanapun berada.

    BalasHapus
  22. Masukkan komentar Anda...ariay tanjung saya seyuhu dengan argumen anda...
    kalau sebenar naya orang minang kabau adlah keturunan para raja dan taka akan mau di perbidak sama siapa pun kecuali sma ninik mamak nya atau penghulu adat/datuak...
    karna ada silislah yang berbunyi kaponakan barajo ka mamak,mamak barajo ka pangulu,pangulu barajo ka ana bana, bana manuruik alua jo patuaik.
    maaf agak susah di artikan dlam bahasa indonesia nya
    akan lain maknya nya nanti..

    BalasHapus
  23. Dari setiap blog yang saya kunjungi,selalu yang dibicarakan hanya tentang "Prasasti Kedukan Bukit" namun tidak pernah membahas tentang "Prasasti Telaga Batu" yang juga ditemukan di Palembang yg berisi " ancaman kutukan" kepada siapapun agar tidak melakukan kejahatan terhadap kedatuan Sriwujaya.
    Yang menjadi pertanyaan saya semenjak dibangku sekolah " apakah mungkin Kedatuan Sriwijaya memberikan ancaman berupa kutukan kepada rakyanya sendiri jika memang halnya kedatuan Sriwijaya berlokasi di Palembang?...."
    Bersama ini turut saya copy paste tentang "Prasaati Telaga Batu" yang bersumber dari "WIKIPEDIA".
    Prasasti Telaga Batu 1 ditemukan di sekitar kolam Telaga Biru (tidak jauh dari Sabokingking), Kel. 3 Ilir, Kec. Ilir Timur II, Kota Palembang, Sumatera Selatan, pada tahun 1935.[1] Prasasti ini sekarang disimpan di Museum Nasional dengan No. D.155. Di sekitar lokasi penemuan prasasti ini juga ditemukan prasasti Telaga Batu 2, yang berisi tentang keberadaan suatu vihara di sekitar prasasti.[2] Pada tahun-tahun sebelumnya ditemukan lebih dari 30 buah prasasti Siddhayatra. Bersama-sama dengan Prasasti Telaga Batu, prasasti-prasasti tersebut kini disimpan di Museum Nasional, Jakarta.

    Prasasti Telaga Batu dipahatkan pada sebuah batu andesit yang sudah dibentuk sebagaimana layaknya sebuah prasasti dengan ukuran tinggi 118 cm dan lebar 148 cm. Di bagian atasnya terdapat hiasan tujuh ekor kepala ular kobra, dan di bagian bawah tengah terdapat semacam cerat (pancuran) tempat mengalirkan air pembasuh. Tulisan pada prasasti berjumlah 28 baris, berhuruf Pallawa, dan berbahasa Melayu Kuno.

    Penafsiran prasasti Sunting

    Tulisan yang dipahatkan pada prasasti cukup panjang, namun secara garis besar isinya tentang kutukan terhadap siapa saja yang melakukan kejahatan di kedatuan Sriwijaya dan tidak taat kepada perintah dātu. Casparis berpendapat bahwa orang-orang yang disebut pada prasasti ini merupakan orang-orang yang berkategori berbahaya dan berpotensi untuk melawan kepada kedatuan Sriwijaya sehingga perlu disumpah.[3]

    Disebutkan orang-orang tersebut mulai dari putra raja (rājaputra), menteri (kumārāmātya), bupati (bhūpati), panglima (senāpati), Pembesar/tokoh lokal terkemuka (nāyaka), bangsawan (pratyaya), raja bawahan (hāji pratyaya), hakim (dandanayaka), ketua pekerja/buruh (tuhā an vatak = vuruh), pengawas pekerja rendah (addhyāksi nījavarna), ahli senjata (vāsīkarana), tentara (cātabhata), pejabat pengelola (adhikarana), karyawan toko (kāyastha), pengrajin (sthāpaka), kapten kapal (puhāvam), peniaga (vaniyāga), pelayan raja (marsī hāji), dan budak raja (hulun hāji).

    Prasasti ini salah satu prasasti kutukan yang paling lengkap memuat nama-nama pejabat pemerintahan. Beberapa sejarahwan menganggap dengan keberadaan prasasti ini, diduga pusat Sriwijaya itu berada di Palembang dan pejabat-pejabat yang disumpah itu tentunya bertempat-tinggal di ibukota kerajaan.[4] Soekmono berpendapat berdasarkan prasasti ini tidak mungkin Sriwijaya berada di Palembang karena adanya keterangan ancaman kutukan kepada siapa yang durhaka kepada kedatuan,[5] dan mengajukan usulan Minanga seperti yang disebut pada prasasti Kedukan Bukit yang diasumsikan berada di sekitar Candi Muara Takus sebagai ibukota Sriwijaya.[6]

    BalasHapus
  24. Dari setiap blog yang saya kunjungi,selalu yang dibicarakan hanya tentang "Prasasti Kedukan Bukit" namun tidak pernah membahas tentang "Prasasti Telaga Batu" yang juga ditemukan di Palembang yg berisi " ancaman kutukan" kepada siapapun agar tidak melakukan kejahatan terhadap kedatuan Sriwujaya.
    Yang menjadi pertanyaan saya semenjak dibangku sekolah " apakah mungkin Kedatuan Sriwijaya memberikan ancaman berupa kutukan kepada rakyanya sendiri jika memang halnya kedatuan Sriwijaya berlokasi di Palembang?...."
    Bersama ini turut saya copy paste tentang "Prasaati Telaga Batu" yang bersumber dari "WIKIPEDIA".
    Prasasti Telaga Batu 1 ditemukan di sekitar kolam Telaga Biru (tidak jauh dari Sabokingking), Kel. 3 Ilir, Kec. Ilir Timur II, Kota Palembang, Sumatera Selatan, pada tahun 1935.[1] Prasasti ini sekarang disimpan di Museum Nasional dengan No. D.155. Di sekitar lokasi penemuan prasasti ini juga ditemukan prasasti Telaga Batu 2, yang berisi tentang keberadaan suatu vihara di sekitar prasasti.[2] Pada tahun-tahun sebelumnya ditemukan lebih dari 30 buah prasasti Siddhayatra. Bersama-sama dengan Prasasti Telaga Batu, prasasti-prasasti tersebut kini disimpan di Museum Nasional, Jakarta.

    Prasasti Telaga Batu dipahatkan pada sebuah batu andesit yang sudah dibentuk sebagaimana layaknya sebuah prasasti dengan ukuran tinggi 118 cm dan lebar 148 cm. Di bagian atasnya terdapat hiasan tujuh ekor kepala ular kobra, dan di bagian bawah tengah terdapat semacam cerat (pancuran) tempat mengalirkan air pembasuh. Tulisan pada prasasti berjumlah 28 baris, berhuruf Pallawa, dan berbahasa Melayu Kuno.

    Penafsiran prasasti Sunting

    Tulisan yang dipahatkan pada prasasti cukup panjang, namun secara garis besar isinya tentang kutukan terhadap siapa saja yang melakukan kejahatan di kedatuan Sriwijaya dan tidak taat kepada perintah dātu. Casparis berpendapat bahwa orang-orang yang disebut pada prasasti ini merupakan orang-orang yang berkategori berbahaya dan berpotensi untuk melawan kepada kedatuan Sriwijaya sehingga perlu disumpah.[3]

    Disebutkan orang-orang tersebut mulai dari putra raja (rājaputra), menteri (kumārāmātya), bupati (bhūpati), panglima (senāpati), Pembesar/tokoh lokal terkemuka (nāyaka), bangsawan (pratyaya), raja bawahan (hāji pratyaya), hakim (dandanayaka), ketua pekerja/buruh (tuhā an vatak = vuruh), pengawas pekerja rendah (addhyāksi nījavarna), ahli senjata (vāsīkarana), tentara (cātabhata), pejabat pengelola (adhikarana), karyawan toko (kāyastha), pengrajin (sthāpaka), kapten kapal (puhāvam), peniaga (vaniyāga), pelayan raja (marsī hāji), dan budak raja (hulun hāji).

    Prasasti ini salah satu prasasti kutukan yang paling lengkap memuat nama-nama pejabat pemerintahan. Beberapa sejarahwan menganggap dengan keberadaan prasasti ini, diduga pusat Sriwijaya itu berada di Palembang dan pejabat-pejabat yang disumpah itu tentunya bertempat-tinggal di ibukota kerajaan.[4] Soekmono berpendapat berdasarkan prasasti ini tidak mungkin Sriwijaya berada di Palembang karena adanya keterangan ancaman kutukan kepada siapa yang durhaka kepada kedatuan,[5] dan mengajukan usulan Minanga seperti yang disebut pada prasasti Kedukan Bukit yang diasumsikan berada di sekitar Candi Muara Takus sebagai ibukota Sriwijaya.[6]

    BalasHapus